Jumat, 07 Januari 2011
Roma - Claudio Ranieri menyebut AS Roma sedikit beruntung dalam kemenangannya atas Catania. Ranieri pun mengakui kemenangan Giallorossi terbantu oleh kesalahan yang dilakukan oleh wasit.
Roma berhasil mengalahkan Catania 4-2 dalam lanjutan Seri A di Stadion Olimpico, Kamis (6/1/2011) malam. Kemenangan ini tak didapat dengan mudah, karena Giallorossi sempat tertinggal 1-2 dan baru bisa mencetak gol penentu di menit-menit akhir.
"Kami memulai dengan baik, tapi entah kenapa malah jatuh berantakan setelah gol (pertama) Marco Borriello," terang Ranieri kepada Football-Italia.
"Catania adalah tim yang bagus dengan pelatih yang cerdas dan mereka menghukum kami, sementara kami tak seperti yang kami inginkan. Di babak kedua saya melihat Roma yang saya kenal dan kami selalu ingin melihatnya," sambung eks pelatih Juventus ini.
Catania memprotes keras gol kedua dan ketiga Roma. Pada gol kedua Giallorossi, dalam tayangan ulang bola terlihat jelas telah meninggalkan lapangan sebelum John Arne Riise mengopernya kepada Marco Boriello. Sementara pada gol ketiga, Mirko Vucinic berada dalam posisi offside sebelum mencetak gol.
Terkait hal tersebut, Ranieri mengakui timnya sedikit beruntung karena dua gol tersebut tetap disahkan oleh wasit. Ia pun melihat adanya kesalahan yang dilakukan oleh sang pengadil.
"Ada sedikit keraguan apakah bola sudah melewati garis, tapi saya mengakui Vucinic dalam posisi offside," tuntas Ranieri.
Turin - Satu kartu merah mengubah segalanya. Demikianlah Luigi Del Neri mengomentari kekalahan 1-4 yang diderita Juventus dari Parma, Kamis (6/1/2011) malam WIB.
Pada pertandingan di Stadon Olimpico Turin tersebut, Bianconeri mendapatkan dua pukulan telak di awal babak pertama. Setelah Fabio Quagliarella harus ditarik keluar akibat cedera, Melo diusir wasit karena bertindak kasar.
Quagliarella keluar pada menit keenam dan digantikan oleh Amauri. Sedangkan Melo dikartu merah pada menit 17 setelah menendang muka Massimo Paci.
Juve yang sempat tertinggal 0-2 akibat gol Sebastian Giovinco mempertipis kedudukan lewat Nicola Legrottaglie di menit 60. Tapi The Old Lady tak mampu menghindarkan diri dari kekalahan.
"Bermain dengan 10 orang cukup rumit. Lalu kehilangan Quagliarella jelas-jelas tak membantu," ujar Del Neri di Football Italia.
"Tak mudah bermain dengan Amauri dan Alessandro Del Piero baru kembali dari cedera."
"Kami bisa membuat beberapa kesempatan dengan keseimbangan yang lebih baik. Tapi saya tak bisa berkata banyak-banyak karena dikeluarkannya Melo mengubah pertandingan," tukasnya.
Turin - Kekalahan 1-4 yang didapat Juventus dari Parma terasa sangat menyesakkan. Bukan hanya karena terjadi di kandang sendiri, tapi juga karena tiga dari empat gol Parma dibuat oleh mantan pemain Juve.
Juventus takluk 1-4 dari Parma di Stadion Olimpico Turin, Kamis (6/1/2011) malam. Gol Parma dicetak oleh Sebastian Giovinco (dua gol), Hernan Crespo, Raffaele Palladino. Sementara gol hiburan Bianconeri lahir lewat sundulan Nicola Legrottaglie.
Kekalahan Juve dari Parma ini memang sangat ironis. Pasalnya, rekor tak terkalahkan Juve sepanjang 18 partai di semua kompetisi dirusak oleh mantan pemainnya sendiri.
Sebastian Giovinco tentu jadi aktor utama dalam laga malam ini. Meski kini berseragam Parma, tapi pemain 23 tahun ini sesungguhnya masih milik Juventus. Dia dipinjamkan ke Gialloblu karena sulit menembus tim utama Bianconeri di musim ini.
Giovinco dinilai sebagai salah satu aset paling berharga yang dimiliki Juventus. Pemuda asli Turin ini menimba ilmu di akademi Juve sebelum akhirnya dipromosikan ke tim utama pada musim 2006/2007.
Dia sempat dipinjamkan ke Empoli pada musim 2007/2008. Meski gagal membantu Empoli lolos dari jeratan degradasi, penampilan Giovinco tetap memukau. Ia pun ditarik kembali ke Turin di akhir musim tersebut.
Setelah kembali ke Juve, Giovinco tetap kesulitan menembus tim utama. Apalagi pelatih Juve saat itu, Claudio Ranieri, lebih suka memakai formasi 4-4-2, yang mana menyulitkan Giovinco yang posisi naturalnya adalah seorang trequartista.
Kehadiran Diego di tahun 2009 makin menyudutkan posisi pemain yang dijuluki formica atomica ini. Setelah beberapa kali mengancam hengkang, Juve akhirnya melepas Giovinco ke Parma di awal musim ini, meski dengan status pinjaman.
Dan laga di Stadion Olimpico malam ini benar-benar jadi ajang pembuktian Giovinco. Lewat dua golnya ke gawang Marco Storari, Giovinco seolah-olah ingin menunjukkan bahwa keputusan Juve yang tak memprioritaskannya adalah sebuah kesalahan.
Aktor lainnya yang ikut 'mengkhianati' Juventus adalah Raffaele Palladino. Palladino juga lahir dari tim muda Juventus. Setelah sempat dipinjamkan ke Salernitana dan Livorno, Palladino masuk skuad Juventus di tahun 2006-2008. Sayang, dia gagal bersaing dan akhirnya dilepas ke Genoa dengan banderol 5 juta euro.
Selain Giovinco dan Palladino, masih ada nama Antonio Mirante dan Antonio Candreva. Mirante adalah kiper yang mengawali karirnya di Juventus. Namun masih kokohnya performa Gianluigi Buffon membuat Mirante lebih banyak dipinjamkan ke klub lain sebelum akhirnya dijual ke Sampdoria pada tahun 2008.
Sementara Candreva adalah pemain Udinese yang kini dipinjam Parma. Dia pernah memperkuat Juve di paruh kedua musim lalu, juga dengan status pinjaman dari Udinese.
Langganan:
Postingan (Atom)


